Menurutnya, kesibukan pekerjaan tidak menyurutkan komitmen para atlet untuk mempersiapkan diri. Seluruh anggota tim disebut tetap berusaha mengikuti program latihan yang telah disusun.
Selain berlatih di lapangan utama, tim gateball Kudus juga sesekali berpindah lokasi. Langkah tersebut dilakukan untuk membiasakan atlet dengan kondisi lapangan yang berbeda.
Wahyudi menjelaskan, karakteristik lapangan gateball di setiap tempat dapat berbeda, terutama dari sisi kontur dan struktur permukaan.
“Kadang kami latihan di beberapa lapangan supaya atlet terbiasa dengan kondisi yang berbeda,” tuturnya.
Sejumlah lokasi yang pernah digunakan untuk latihan antara lain Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus dan Lapangan Tanjung. Menurut Wahyudi, latihan di berbagai lapangan penting agar atlet tidak mengalami kendala ketika menghadapi lokasi pertandingan Porprov.
“Kami sesuaikan dengan perkiraan kondisi lapangan saat kejuaraan supaya atlet tidak kaget,” imbuhnya.
Gateball di Kabupaten Kudus telah berkembang sejak sekitar 2011-2012. Dalam perjalanannya, pembinaan tidak hanya menyasar atlet dewasa, tetapi juga mulai menyentuh kelompok pelajar.
Saat ini, jumlah atlet gateball yang dibina di Kudus dapat mencapai sekitar 30 orang jika seluruh kelompok berkumpul. Di antaranya terdapat atlet pelajar dari tingkat SD, SMP, hingga SMA.
Menurutnya, regenerasi menjadi salah satu perhatian karena sejumlah atlet yang saat ini memperkuat Kudus di Porprov nantinya akan memasuki batas usia prestasi. Dalam gateball, terdapat batas usia untuk mengikuti pertandingan prestasi, yakni maksimal 50 tahun.
Karena itu, pembinaan atlet muda dinilai penting agar tongkat estafet prestasi dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Wahyudi berharap perkembangan gateball di Kudus tidak berhenti pada capaian Porprov 2026. Menurutnya, keberadaan atlet muda harus terus diperkuat sehingga Kudus memiliki stok pemain yang dapat menggantikan atlet senior.
“Harapan kami gateball Kudus semakin maju dan regenerasinya terus tumbuh,” pungkasnya.***
