Menurut Anton, tantangan yang harus dihadapi saat ini adalah industry gap, yaitu adanya mismatch antara jumlah lulusan perguruan tinggi dan jumlah kebutuhan industri perbankan syariah yang tidak seimbang.
“Hal tersebut disebabkan adanya skill mismatch, kebanyakan lulusan perguruan tinggi saat ini unggul di bidang kognitif, namun sebaliknya, di social skill dan juga interpersonal skill seperti problem solving, decision making, dan critical thinking masih perlu dikembangkan,” jelasnya.
Muamalat Institute, sambung Anton, memiliki program Muamalat Indonesia Kompeten (MIKO) yang didesain untuk mendukung pelaksanaan MBKM di perguruan tinggi.
Anton menambahkan, selain program magang, diharapkan kerjasama ini juga bisa dilaksanakan pada kegiatan lain seperti dosen tamu, kuliah umum atau pelatihan.
“Muamalat Institute sangat terbuka dalam mengembangkan kerjasama ini, kami sangat siap untuk menghadirkan ahli dalam kuliah umum, studium generale, pelatihan bahkan sertifikasi kompetensi,” ujar Anton. ***
