Dropping Air Bersih Kembali Dilakukan, 2.000 Warga Glagahwaru Kudus Terdampak Kekeringan

Dropping air bersih di Desa Glagahwaru, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. (Foto: Istimewa)

KUDUS, ZONANEWS.ID – Kekeringan yang melanda Desa Glagahwaru, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, semakin dirasakan masyarakat. Sekitar 2.000 warga kini terdampak akibat menipisnya sumber air bersih.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar warga, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus bersama Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kudus kembali melakukan dropping air bersih sebanyak 5.000 liter pada Jumat, 7 Agustus 2026.

Bacaan Lainnya

Kepala Desa Glagahwaru Nurdi mengatakan, jumlah warga yang terdampak kekeringan terus bertambah. Kondisi tahun ini juga dinilai lebih parah dibandingkan kekeringan yang terjadi pada tahun sebelumnya.

“Sudah semakin bertambah. Sekitar 2.000-an jiwa yang terdampak untuk saat ini,” kata Nurdi, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Menurutnya, kekeringan mulai dirasakan masyarakat sejak awal Juli. Cuaca yang panas menyebabkan debit air sumur warga semakin menurun. Sejumlah sumur bahkan sudah tidak lagi mengeluarkan air.

Dampak kekeringan terjadi di sejumlah wilayah, mulai RT 1 hingga RT 6. Dari wilayah tersebut, kondisi paling banyak dirasakan warga di RT 3.

“Tahun kemarin tidak, karena cuaca agak banyak hujan, jadi tidak ada dampak kekeringan seperti ini,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan air bersih, terutama untuk minum dan memasak, menjadi persoalan yang harus segera ditangani.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Kudus juga telah melakukan dropping air bersih sebanyak 15.000 liter ke Desa Glagahwaru pada Jumat, 17 Juli 2026. Bantuan tersebut disalurkan untuk memenuhi kebutuhan warga di sejumlah RT yang mulai terdampak kekeringan.

Sekretaris BPBD Kudus Syarif Hidayah mengatakan, persoalan tidak hanya terjadi karena sumur warga mengering. Ketersediaan air bawah tanah di wilayah tersebut juga semakin sulit ditemukan.

“Sisa air bawah tanah berada di kedalaman sekitar 80 hingga 100 meter, bahkan di sejumlah titik mencapai 120 meter,” ungkap Syarif.