Selain kedalaman sumber air, kualitas air di beberapa titik juga menjadi persoalan. Terdapat lokasi yang airnya terasa asin ketika warga mendapatkan sumber air.
Sebagai langkah penanganan sementara, air bersih yang didropping kemudian ditampung di sejumlah tandon yang telah disiapkan.
BPBD Kudus menyediakan dua tandon dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter. Sementara Pemerintah Desa Glagahwaru menyiapkan dua tandon dengan kapasitas masing-masing 2.500 liter.
Kepala Desa Glagahwaru berharap dropping air bersih dapat terus dilakukan selama kekeringan masih berlangsung. Bantuan diharapkan tidak hanya berasal dari Pemkab Kudus dan BPBD, tetapi juga dari PDAM, IBI Kudus serta berbagai pihak lainnya.
Selain penanganan sementara, pemerintah desa juga mulai menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan air bersih. Salah satu opsi yang direncanakan adalah pembangunan sumur maupun Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).
Namun, rencana tersebut masih dalam tahap perencanaan dan asesmen. Kondisi air bawah tanah menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan agar pembangunan sumber air nantinya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Ketua IBI Cabang Kudus Darini mengatakan, pihaknya turut terlibat dalam dropping air bersih sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan.
Menurutnya, ketersediaan air bersih sangat penting bagi seluruh masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi dan balita.
“Air adalah kebutuhan mutlak, khususnya untuk ibu hamil, bayi, balita, untuk pemenuhan kehidupan, hidup sehat,” ujar Darini.
Ia menambahkan, pemenuhan kebutuhan air bersih juga berkaitan dengan upaya menjaga kesehatan ibu dan anak serta mencegah stunting.
Karena itu, selain memberikan bantuan air, IBI Kudus turut mengedukasi masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama musim kekeringan. Warga diminta memprioritaskan persediaan air untuk kebutuhan utama seperti minum dan memasak.***
