KUDUS, ZONANEWS.ID – Proyek pembangunan Gedung Kudus Sehat milik RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus senilai Rp 91,4 miliar yang tengah berjalan, kini menjadi sorotan publik.
Sejumlah pihak mempertanyakan aspek administrasi proyek tersebut yang dinilai belum sepenuhnya rampung, mulai dari perizinan hingga kerja sama pemanfaatan lahan dengan PT KAI.
Selain itu, masyarakat juga menyoroti belum terbitnya Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Tak hanya itu, mekanisme kompensasi bagi warga yang terdampak pembangunan juga menjadi perhatian.
Di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, proyek pembangunan gedung rumah sakit dengan nilai fantastis tersebut turut memunculkan pertanyaan mengenai urgensi dan prioritas pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD dr. Loekmono Hadi, Edi Susanto menegaskan bahwa seluruh tahapan pengadaan telah dilakukan melalui koordinasi dan komunikasi dengan Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) Sekretariat Daerah Kudus.
Ia mengakui proyek Gedung Kudus Sehat memang menjadi perhatian publik, terlebih karena dilaksanakan saat banyak daerah di Jawa Tengah mengalami pengurangan transfer keuangan daerah akibat kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat.
“Karena menjadi sorotan, kami sangat berhati-hati dalam pelaksanaan proyek ini. Kami ingin memastikan waktu pembangunan cukup sehingga target penyelesaian dapat tercapai dengan baik,” ujarnya.
Edi menjelaskan, percepatan proses pengadaan dilakukan sejak awal tahun agar waktu pembangunan tidak tergerus oleh tahapan lelang yang biasanya memakan waktu cukup panjang. Dengan demikian, pelaksanaan konstruksi dapat dimulai lebih cepat.
Ia juga mengungkapkan bahwa nilai pagu awal proyek sebesar Rp 110 miliar telah mengalami efisiensi setelah dilakukan review oleh tenaga ahli. Hasilnya, nilai proyek turun menjadi Rp 99,6 miliar sebelum akhirnya masuk proses lelang.
Dalam proses pemilihan kontraktor, kata Edi, panitia tidak hanya mempertimbangkan penawaran harga terendah, tetapi juga kualitas pekerjaan serta kewajaran harga di tengah fluktuasi harga material dan nilai tukar dolar yang meningkat.
