Dari Rokok Klobot hingga Tjap Bal Tiga, Jejak Nitisemito Dihidupkan Lewat Panggung Drama Musikal

Drama musikal “Nitisemito de Kretek Koning” yang dipentaskan di Taman Budaya Sosrokartono, Sabtu, 29 Agustus, 2026 malam. (Foto: Istimewa)

KUDUS, ZONANEWS.ID — Suasana Taman Budaya Sosrokartono, Desa Bae, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, mendadak berubah ketika lampu sorot yang sebelumnya padam menyala terang.

Panggung terbuka itu kemudian dipenuhi sekelompok warga yang keluar dari balik tirai sambil menampilkan gerakan dan tarian penuh keceriaan.

Para pemain membawa beragam properti yang menggambarkan aktivitas masyarakat Kudus pada masa lalu. Wakul berisi sayuran, tembakau, cengkeh hingga jagung dibawa ke atas panggung seolah menghidupkan kembali suasana perdagangan masyarakat pada masa awal perkembangan industri kretek.

Bacaan Lainnya

Adegan tersebut menjadi pembuka drama musikal “Nitisemito de Kretek Koning” yang dipentaskan di Taman Budaya Sosrokartono, Sabtu, 29 Agustus, 2026 malam.

Dialog antartokoh dipadukan dengan nyanyian dan tarian sehingga kisah perjalanan sang saudagar kretek disajikan dengan nuansa berbeda.

Pertunjukan kemudian membawa penonton mengikuti kehidupan Nitisemito, saudagar asal Kudus yang dikenal sebagai salah satu pelopor industri kretek.

Kisah tersebut tidak hanya menampilkan perjalanan bisnisnya, tetapi juga menggambarkan kehidupan sosial masyarakat Kudus ketika perdagangan tembakau, klobot dan cengkeh mulai berkembang.

Cerita berlanjut ketika Nitisemito bersama rekannya singgah di sebuah warung dan memesan kopi. Minuman tersebut disajikan oleh Nasilah, pemilik warung yang kemudian menarik perhatian Nitisemito.

Pertemuan itu menjadi awal hubungan keduanya hingga Nitisemito datang untuk meminang Nasilah.

Unsur tradisi Jawa turut ditampilkan ketika prosesi pernikahan keduanya berlangsung. Tarian, musik dan suasana pesta menggambarkan kemeriahan pernikahan masyarakat Jawa pada masa itu.

Bahkan, rokok klobot menjadi bagian dari cerita ketika Nitisemito memberikan hadiah kepada Nasilah saat meminangnya.

Setelah menikah, perjalanan Nitisemito memasuki babak baru. Selama 12 tahun menjadi saudagar, usaha yang dijalankannya belum berkembang secara signifikan dan produksi masih bertumpu pada rokok klobot.

Kondisi itu membuat Nasilah merasa khawatir terhadap masa depan usaha yang mereka bangun bersama.

Namun, Nitisemito melihat persoalan tersebut dari sudut pandang berbeda. Baginya, keberhasilan usaha kretek tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membuat dan menjual rokok, tetapi juga bagaimana menciptakan cita rasa yang mampu membedakan produknya dari rokok lain.

“Mereka bisa melinting dan menjual, tapi tidak dengan memberi nyawa pada rasanya,” ucap Nitisemito yang diperankan Hanif Hidayatullah.

Pencarian terhadap rasa kemudian menjadi bagian penting dalam cerita. Bersama Nasilah, Nitisemito menawarkan racikan kreteknya kepada berbagai lapisan masyarakat, mulai pedagang, bakul, penjual kloso, tembakau, sayur, buah hingga para kuli.