Dari Rokok Klobot hingga Tjap Bal Tiga, Jejak Nitisemito Dihidupkan Lewat Panggung Drama Musikal

Drama musikal “Nitisemito de Kretek Koning” yang dipentaskan di Taman Budaya Sosrokartono, Sabtu, 29 Agustus, 2026 malam. (Foto: Istimewa)

Perjalanan mencari pasar tersebut disampaikan melalui dialog dan nyanyian yang membuat alur cerita terasa dinamis.

Nitisemito kemudian memikirkan identitas untuk produk yang dikembangkannya. Gagasan memberikan merek sempat mendapat penolakan, terutama ketika ia mengusulkan nama Kodok Nguntal Ulo. Nama tersebut justru menjadi bahan tertawaan warga dan pengusaha rokok lainnya.

Ia akhirnya membuat logo tanpa nama berupa tiga bola yang kemudian dikenal sebagai identitas Tjap Bal Tiga.

Bacaan Lainnya

Seiring berkembangnya usaha, Nitisemito melakukan ekspansi produksi dengan menerapkan sistem mandor abon. Pekerjaan meracik, melinting, menggunting hingga mengemas rokok dapat dilakukan masyarakat dari rumah masing-masing.

Namun, sistem tersebut menghadapi persoalan ketika Taryono memengaruhi dua mandor untuk mencampurkan racikannya dengan racikan Nitisemito sehingga memicu perubahan rasa dan konflik mengenai kualitas produk.

Persoalan perusahaan semakin kompleks setelah Menir, utusan Belanda, datang membawa laporan kenaikan cukai sebesar 20 persen.

Selain masalah cukai, muncul pula persoalan kebersihan lingkungan kerja dan perlakuan terhadap pekerja perempuan.

Menghadapi berbagai persoalan itu, Nitisemito mengambil keputusan tegas dengan memberhentikan mandor yang mencampurkan racikan serta menghentikan sistem mandor abon.

Ia kemudian mendirikan pabrik baru yang lebih besar dengan sistem kerja yang dinilai lebih transparan. Dari titik inilah usaha Tjap Bal Tiga memasuki masa kejayaan hingga Nitisemito dikenal sebagai Raja Kretek dari Kudus.

Pimpinan Produksi Pentas, Petrus Budi Utomo, mengatakan pementasan tersebut menjadi ruang bagi para seniman teater Kudus untuk terus berkarya sekaligus mengenalkan kembali tokoh sejarah kepada masyarakat melalui seni pertunjukan.

“Pentas ini mengangkat drama musikal tentang Nitisemito, De Kretek Koning, tokoh yang dikenal sebagai salah satu pelopor industri kretek di Kudus sekaligus saudagar kretek,” katanya.

Ia berharap pertunjukan serupa dapat terus digelar dengan mengangkat tokoh lain, termasuk Sosrokartono.

Salah seorang penonton, Wahyu Hadiningsih, juga mengapresiasi konsep pertunjukan tersebut. Guru SMP 3 Kudus itu menilai drama musikal menjadi penyegaran dalam penyampaian cerita sejarah.

“Sangat bagus dan lebih banyak menampilkan pendekatan yang natural,” ujarnya. ***