Bupati Sam’ani: Kupatan Jadi Puncak Tradisi Lebaran Kota Santri Setelah Puasa Syawalan

Parade Sewu Kupat di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Sabtu, 28 Maret 2026. (Foto: Siti Islamiyah/Zonanews.id)

KUDUS, ZONANEWS.ID – Tradisi Kupatan kembali digelar meriah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, tepat tujuh hari setelah Hari Raya Idulfitri. Empat perayaan tradisi dilangsungkan secara serentak pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Empat tradisi tersebut yakni, Sewu Kupat di Desa Colo (Kecamatan Dawe), Bulusan di Desa Hadipolo (Kecamatan Jekulo), Gebyar Kupatan di Desa Kesambi (Kecamatan Mejobo) dan Syawalan Sendang Jodo di Desa Purworejo (Kecamatan Bae).

Kegiatan ini menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dijaga oleh warga di Kabupaten Kudus sebagai bentuk syukur setelah menjalani ibadah puasa Ramadan selama satu bulan sekaligus puasa Syawal selama enam hari.

Bacaan Lainnya

Bupati Sam’ani menyampaikan bahwa antusiasme masyarakat dalam mengikuti tradisi Kupatan tahun ini sangat luar biasa.

Ia menyebut, perayaan tidak hanya terpusat di satu lokasi, melainkan tersebar di beberapa titik di wilayah Kudus. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi Kupatan masih hidup dan menjadi identitas kuat bagi masyarakat setempat.

“Pelaksanaan acara berlangsung tertib dan lancar berkat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Forkopimda (Forum Koordinasi Pimpinan Daerah),” ujarnya usai mengikuti prosesi Parade Sewu Kupat di Desa Colo, Sabtu, 28 Maret 2026.

Secara filosofis, menurut Sam’ani, Kupatan memiliki makna mendalam bagi masyarakat Jawa. Istilah “kupat” kerap dimaknai sebagai “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan, yang diiringi dengan saling memaafkan lahir dan batin.