Bupati Sam’ani: Kupatan Jadi Puncak Tradisi Lebaran Kota Santri Setelah Puasa Syawalan

Parade Sewu Kupat di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Sabtu, 28 Maret 2026. (Foto: Siti Islamiyah/Zonanews.id)

“Tradisi ini menjadi simbol penyempurna setelah Hari Raya Idulfitri, di mana nilai-nilai kebersamaan dan keikhlasan kembali diteguhkan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Bupati Sam’ani menjelaskan bahwa Kupatan juga erat kaitannya dengan puasa Syawal. Masyarakat Kudus yang dikenal sebagai kota santri umumnya melanjutkan ibadah dengan puasa enam hari di bulan Syawal.

Setelah itu, perayaan Kupatan atau yang dikenal sebagai “Bada Syawalan” menjadi penanda berakhirnya rangkaian ibadah sekaligus momentum kebersamaan yang sarat makna spiritual dan budaya.

Bacaan Lainnya

“Kupatan ini namanya Bada Syawalan karena masyarakat Kabupaten Kudus yang Kota Santri ini punya kebiasaan setelah Lebaran melakukan puasa enam hari, ini dilanjutkan dengan Bada Kupatan,” terangnya.

Adapun pelaksanaan Tradisi Kupatan di Desa Colo diwarnai dengan kirab belasan gunungan kupat yang dinamai dengan Parade Sewu Kupat. Sebanyak 18 desa di Kecamatan Dawe turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Acara dimulai dengan kirab belasan gunungan ketupat, lepet dan hasil bumi dari kompleks Makam dan Masjid Sunan Muria menuju Taman Ria Desa Colo. Kemudian, gunungan tersebut didoakan bersama sebelum akhirnya digerebek warga.

Warga setempat percaya bahwa ketupat, lepet dan hasil bumi dari tradisi ini mengandung keberkahan dari Sunan Muria. Kegiatan ini juga mencerminkan rasa syukur serta semangat gotong royong dari warga Kudus, khususnya di Kecamatan Dawe. ***