“Kolaborasi seperti ini sangat penting karena memberikan bekal pengetahuan kepada para orang tua agar mampu memenuhi kebutuhan gizi anak secara tepat sejak dini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berbagai program pencegahan yang dijalankan bersama seluruh pemangku kepentingan mulai menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data triwulan pertama 2026, prevalensi stunting di Kabupaten Kudus turun menjadi 3,7 persen.
Meski demikian, Sam’ani menilai capaian tersebut bukan alasan untuk berpuas diri. Menurutnya, upaya menurunkan angka stunting harus terus dilakukan secara konsisten melalui pendampingan keluarga, pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian makanan bergizi bagi balita, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat.
Ia menegaskan target pemerintah daerah bukan sekadar menurunkan angka stunting, tetapi mewujudkan Kabupaten Kudus bebas stunting sehingga seluruh anak memiliki kesempatan tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.
“Kami ingin seluruh elemen masyarakat terus bergerak bersama. Dengan gotong royong dan komitmen yang kuat, target nol stunting di Kabupaten Kudus bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan,” katanya.
Bupati berharap kegiatan edukasi seperti Gebyar Posyandu SUN dan Gerakan Makan Lahap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia balita.
Menurutnya, investasi pada pemenuhan gizi anak merupakan langkah strategis untuk mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing, sekaligus menjadi fondasi pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Kudus pada masa mendatang.***
