Selain itu, kegiatan yang berlangsung selapan sekali jiga dinilai dapat menjadi media anak untuk belajar langsung secara kontekstual.
“Jadi, anak-anak diajarkan belajar sambil bermain. Mengikuti workshop pembuatan gethuk, menyaksikan pertunjukan dan bermain permainan tradisional yang ada,” ungkap Ulul.
Lelaki yang akrab disapa Citul itu menambahkan bahwa kegiatan ini juga bisa menjadi ajang nostalgia, baik bagi anak-anak maupun orang tua.
“Dulu, banyak permainan tradisional yang masih seru dimainkan, begitu pula dengan kuliner lokal. Ini bisa jadi ajang nostalgia, mengingat masa lampau bagi kami dan anak-anak bisa mengenal kearifan lokal dulu,” terang Citul.
Dirinya berharap, agenda Guru Pagi ini dapat berjalan rutin dan semakin melibatkan banyak masyarakat di luar daerah.
“Misalnya ada yang mau berkunjung ke sini, kami terima. Belajar, bermain, bernostalgia hingga berlibur di KBPW, murah dan juga asyik,” ungkapnya. (***)
