Persiapan mental juga menjadi perhatian tim pelatih. Menurut Ngatmono, pengalaman mengikuti berbagai turnamen sangat penting untuk membangun mental dan kepercayaan diri atlet ketika menghadapi pertandingan.
Namun, kesempatan mengikuti kompetisi soft tenis masih terbatas. Ia menyebut turnamen soft tenis yang digelar secara rutin dan berjenjang masih jarang ditemukan, baik di Kudus maupun Jawa Tengah.
“Turnamen soft tenis masih jarang, sehingga kesempatan menguji mental atlet juga terbatas,” ujarnya.
Dari lima atlet yang dipersiapkan, satu atlet putra tercatat baru pertama kali mengikuti Porprov. Sementara atlet lainnya telah memiliki pengalaman tampil pada Porprov sebelumnya. Keikutsertaan tahun ini juga menjadi kali kedua bagi soft tenis Kudus dalam ajang Porprov.
Menghadapi Porprov Jateng 2026, Ngatmono memilih memasang target yang realistis. Ia membidik satu medali perak dari nomor ganda putra dan satu medali perunggu dari nomor tunggal putra.
“Target kami satu perak untuk ganda dan satu perunggu untuk tunggal putra. Kalau bisa emas, tentu kami bersyukur,” tuturnya.
Ngatmono menyebut persaingan pada Porprov Jateng 2026 cukup ketat. Sejumlah daerah, termasuk Semarang dan Tegal, memiliki atlet yang akan menjadi pesaing dalam cabang olahraga soft tenis.
Karena itu, pemantapan teknik dan strategi akan terus dilakukan menjelang pertandingan. Ia berharap seluruh atlet dapat kembali berkumpul pada awal Oktober sehingga latihan bersama dapat dilakukan secara lebih maksimal.
“Awal Oktober kami berharap semua atlet bisa bergabung untuk pemantapan,” katanya.
Selain persiapan menghadapi Porprov, Ngatmono berharap pembinaan soft tenis di Kudus dapat dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, pembinaan tidak seharusnya hanya berjalan ketika mendekati kejuaraan besar.
“Harapannya pembinaan soft tenis tetap berlanjut setelah Porprov, tidak hanya aktif ketika ada event,” pungkasnya.***
