KUDUS, ZONANEWS.ID – Green Community, Biologi, Universitas Negeri Semarang bekerjasama dengan MRC (Muria Research Center) Indonesia melakukan pendataan terhadap jumlah populasi Cecak Batu (Cnemaspis Muria) di kawasan lereng Gunung Muria.
Kegiatan penelitian ekologi yang dilakukan di hilir sungai Ceweng, perbatasan antara Desa Kajar dengan Colo untuk mengumpulkan informasi mengenai perilaku dan populasi Cecak Batu di Muria. Kegiatan berlangsung pada tanggal 6-12 September 2022
Cecak Batu Muria merupakan jenis cecak endemik dadi Gunung Muria yang pertama kali ditemukan dan diteliti pada tahun 2019. Penemuan Cecak Batu tersebut sangat istimewa karena menjadi catatan pertama Cecak Batu marga Cnemaspis di Jawa.
Koordinator MRC Indonesia, Muhammad Niam Makhali menyampaikan bahwa pencarian Cecak Batu dilakukan di bebatuan-bebatuan sungai Ceweng di Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kudus.
Menurut Niam, perbedaan yang kasat mata antara Cecak Batu Muria dengan cecak biasa, dapat dilihat dari matanya. Mata cecak batu Muria bulat hitam tanpa garis sedangkan mata cecak biasa terdapat garis tengah horizontal berwarna putih yang membelah bola mata hewan tersebut.
Selain itu, pihaknya menambahkan, ukuran Cecak Batu Muria juga sedikit lebih besar dibandingkan dengan cecak pada umumnya, dengan duri-duri kecil di atas ekor dan punggung cecak.
“Untuk mendeteksi Cecak Batu Muria yang sudah ditemui, kami memberi tanda berupa cat UV khusus warna ungu yang bisa terdeteksi dengan sinar ultraviolet. Kemudian kami tandai kaki cecak yang sebelah belakang kanan, kemudian kami lepas, dan rute selanjutnya kami tandai di kaki belakang kiri, kemudian terakhir kaki depan kanan,” jelasnya saat dihubungi, Senin, 19 September 2022.
Melalui penelitian terkait keberagaman hayati di kawasan Muria tersebut, pihaknya berharap masyarakat sekitar lebih sadar untuk melestarikan dan menjaga ekosistem hutan di Muria.
