“Itu untuk tipe tangki yang berisi 22 liter, ada juga tipe tangki 10 liter dan 40 liter,” imbuhnya.
Menurutnya, teknologi pertanian ini dapat menjadi alternatif solusi melihat minimnya tenaga manusia di bidang pertanian.
Selain itu, dengan teknologi ini, dapat mempermudah dan mempercepat produktivitas pertanian.
“Teknologi juga bisa dimanfaatkan untuk pencegahan hama, penyemprotan nutrisi dan pestisida,” timpalnya.
Hal ini diakui oleh Hawi Sukamto, salah satu petani asal Kecamatan Undaan Kudus. Hawi yang sudah dua tahun menggunakan jasa ini mengaku sangat terbantu pekerjaannya di bidang pertanian.
“Lebih irit dan lebih merata jika pakai drone ini, contohnya penggunaan obat, biaya jasa sewa yang lebih murah, dan penyebaran yang lebih merata,” ujarnya.
Dari pembibitan, pemberian nutrisi hingga penyemprotan pestisida, Hawi sudah memanfaatkan teknologi tersebut. Hasilnya, panen yang ia dapat perhektarnya lebih banyak satu ton dibandingkan penggunaan tenaga manusia.
“Jika pakai tenaga manusia, panen 6 ton perhektar, kalau pakai mesin bisa 7 ton,” terangnya.
Ia pun sepakat bahwa petani harus bisa memanfaatkan teknologi di bidang pertanian. Karenanya, Hawi berupaya melibatkan para petani muda agar melek teknologi untuk mendongkrak produksi pangan di Kudus.
“Saya yang pertama kali menggunakan jasa ini di Kudus, dulu sempat ditolak tapi sekarang sudah banyak yang ikut pakai,” ungkap Ketua Gapoktan Desa Karangrowo itu.**
