Kastimah mengatakan, kedatangan orang-orang tersebut tidak hanya berlangsung sekali. Setelah rombongan pertama datang menggunakan tiga mobil, rombongan berikutnya disebut kembali mendatangi lokasi dengan empat mobil.
Dengan demikian, berdasarkan keterangannya, jumlah kendaraan yang datang dalam rangkaian kejadian itu mencapai tujuh mobil.
Warga sekitar turut mendatangi lokasi untuk membantu menengahi persoalan. Mereka berupaya agar permasalahan tersebut dapat diselesaikan dan situasi kembali kondusif.
Namun, menurut Kastimah, rombongan penagih utang belum bersedia meninggalkan lokasi karena pembayaran belum dilakukan. Ia mengaku telah meminta waktu untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
“Saya meminta waktu paling cepat dua minggu dan paling lambat satu bulan untuk melunasi,” tuturnya.
Permintaan itu disampaikan karena Kastimah mengaku tidak memiliki uang untuk membayar utang secara langsung pada saat kejadian. Meski demikian, ia menyebut pihak yang datang tetap meminta pembayaran segera.
Persoalan tersebut juga disebut telah mendapat perhatian Kepala Desa Jepang. Menurut Kastimah, kepala desa sempat membantu mengupayakan penyelesaian dengan menyanggupi jangka waktu pembayaran paling cepat dua minggu dan paling lama satu bulan.
Akan tetapi, upaya penyelesaian itu belum sepenuhnya meredakan persoalan. Kastimah menyebut situasi kembali memanas setelah terdapat hal-hal yang belum terselesaikan dalam proses tersebut.
Ia menambahkan, kejadian itu merupakan pengalaman pertama dirinya menghadapi situasi serupa. Sebelumnya, ia mengaku tidak pernah mengalami ancaman maupun teror berkaitan dengan persoalan utang tersebut.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena penagihan utang diduga berujung pada kerusakan rumah dan ketegangan di lingkungan warga. Penyelesaian persoalan pembayaran perlu dilakukan melalui mekanisme yang sesuai hukum, sedangkan dugaan perusakan maupun ancaman perlu ditelusuri lebih lanjut oleh pihak berwenang.***
