“Kalau selama event ini, Srikandi Cup, kami dibooking 100 persen full. Ada 93 kamar yang dibooking,” tutur Tika.
Tamu yang menginap di Sapphire Boutique Hotel Kudus berasal dari sejumlah kontingen peserta turnamen, di antaranya Arab Saudi, Singapura, tim Nusantara dan official. Menurut Tika, kepadatan hunian tersebut menunjukkan besarnya efek ekonomi dari penyelenggaraan event internasional.
“Di Sapphire sendiri ada dari Arab Saudi, lalu Singapura, tim Nusantara dan official. Jadi selama event memang penuh,” jelasnya.
Tika menambahkan, tren positif okupansi hotel diperkirakan masih berlanjut setelah Srikandi Merdeka Cup.
Sejumlah agenda olahraga lainnya bahkan telah mulai melakukan pemesanan kamar hingga beberapa bulan ke depan, termasuk agenda kejuaraan yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober.
“Sampai Oktober juga sudah ada booking-an. Setiap bulan sudah ada agenda-agenda kejuaraan. Oktober ini kalau tidak salah ada Porprov di Kabupaten Kudus dan sudah ada booking-an juga,” katanya.
Meski penyelenggaraan event memberikan dampak positif bagi bisnis perhotelan, Tika menyebut kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi pelaku usaha.
Pasalnya, Kudus masih didominasi hotel bintang tiga dan bintang empat, sementara tamu internasional umumnya memiliki standar pelayanan setara hotel bintang lima.
“Yang pasti alhamdulillah tingkat hunian semakin meningkat. Tetapi PR kami ketika menangani event-event internasional, hotel di Kabupaten Kudus sendiri rata-rata masih level bintang tiga dan bintang empat, sedangkan standar mereka minimal bintang lima,” ujarnya.
Karena itu, pelaku industri perhotelan dituntut meningkatkan kualitas pelayanan, kebersihan dan hospitality agar mampu memenuhi ekspektasi tamu dari berbagai negara.
“Jadi ini menjadi PR bagi kami dalam melakukan hospitality. Mulai dari tingkat kebersihan sampai kualitas pelayanan, minimal kami harus bisa menyetarai standar hotel bintang lima, walaupun beberapa hotel di Kabupaten Kudus masih bintang tiga sampai bintang empat,” pungkas Tika. ***
