Lebih lanjut, pihaknya juga ingin menghidupkan wacana dan event mural di Kudus lebih semarak lagi. Hal ini menjadi keresahan bersama, supaya ekosistem seni rupa dan street art di Kudus juga dilirik sebagai karya yang keren.
“Dalam event ini kami juga melibatkan beberapa penulis sebagai kurator, sehingga gagasan dan wacana para perupa ini bisa tersampaikan ke publik,” ujarnya.
Salah satu writer mural, Danangsu mengungkapkan bahwa event ini cukup menarik. Menyampaikan folklor lewat mural memang jarang ada.
Apalagi, lanjut Danang, mural yang digambar juga berada di tengah-tengah perkampungan. Artinya, para perupa mural harus bersinggungan dengan warga setempat dan bersosial selama menggambar.
“Ternyata, mural juga bisa berbaur dengan desa, berada di tengah desa, bersinggungan langsung dengan masyarakat. Artinya, pesan-pesan folklor yang digambar juga diharapkan bisa tersampaikan secara langsung ke masyarakat,” kata Danang.
