Soroti Pernikahan Dini di Kudus, Psikolog Sebut Unsur Pornografi Ikut “Nyumbang”

Ilustrasi. Pernikahan. (Pixabay.com)

“Harusnya, pornografi atau materi edukasi seks bisa diedukasikan melalui kesehatan reproduksi, namun kini hanya disampaikan di jenjang SMP saja,” urainya.

Padahal, tambah Dwi, ada beberapa materi yang bisa disampaikan agar anak bisa bijak dalam mengatasi dampak puber, baik positif ataupun negatifnya. Termasuk mengatasi kecanduan pornografi.

“Sehingga tidak muncul perilaku imitasi atau meniru,” tandasnya.

Bacaan Lainnya

Kemudian, upaya lain pencegahan pernikahan dini juga bisa diedukasi melalui orangtua. Namun, justru ada orang tua yang memilih untuk menikahkan anaknya di usia muda.

Dwi menyebut, alasan orang tua menyetujui pernikahan usia dini yakni adalah faktor ekonomi. Lantaran, beban orang tua utamanya dari pihak perempuan berkurang.

Selain itu, faktor stigma yang masih melekat di masyarakat juga menjadi penyebab pernikahan dini. Sehingga, hal tersebut menjadi seperti momok bagi para lajang.

“Masih banyak ditemui di masyarakat, kalau umur sekian belum menikah itu dianggap tidak laku. Malah terkadang ada sindiran menggunakan kata-kata perawan tua,” ucapnya. ***