Sembari Kenang Masa Jayanya, Pegiat Seni Kudus Pilih Baca Puisi di Bekas Gedung Ngasirah

Sastrawan lintas generasi yang tergabung dalam Ligusty Poeziya binaan Lesbumi Kudus mendeklamasikan puisi dengan tema “Pahlawan, pahlawan yang tidak dikenal”, di lokasi bekas Gedung Wanita Ngasirah, Jalan Jenderal Sudirman, turut Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Rabu, 29 November 2023. (dok. Istimewa)

Dulu, Gedung Wanita Ngasirah dikatakannya menjadi salah satu tempat ekspresi kesenian masyarakat Kudus. Tapi kini hanya menjadi kenangan semata.

“Dulu saat saya jadi mahasiswa, saya pernah pentas Band di Gedung Ngasirah ini, sering juga ada pameran buku dan acara – acara ramai pengunjung,” kenang Edi Buseng.

Sementara itu, Ketua Lesbumi Kudus Abud SB Runcing mengatakan, sosok Ngasirah yang diabadikan sebagai nama gedung di Kudus merupakan ibu yang melahirkan seorang RA Kartini dan RMP Sosrokartono.

Bacaan Lainnya

Sebab itu, terbengkalainya gedung termasuk lokasi berdirinya Gedung Wanita Ngasirah membuatnya prihatin.

Kepada Pemerintah Kabupaten Kudus, Abud berharap eks Gedung Ngasirah bisa menjadi tempat yang layak dan menjadi tempat ekspresi kesenian masyarakat Kudus.

“Kami selalu berharap kepada Pemkab Kudus, Eks Gedung Ngasirah ini menjadi tempat yang layak, terkhusus tempat ekspresi kesenian masyarakat Kudus yang kini dirasa tak bertempat, bukan justru menjadi reruntuhan kenangan dan tumpukan sampah,” tegas Abud.

Di sisi lain, pembacaan puisi kemarin juga dilakukan oleh Sinta Haryani pegiat kesenian mahasiswa, Lia Wahab pegiat literasi perempuan, Ahmad Dawud literasi santri Kudus, Maulana Rifqi penyeduh kopi, Nun Wideng aktivis kesenian, dan Aan Cok aktivis pergerakan mahasiswa.**