“Ada salah satu desa yang bisa mengolah sampah plastik jadi BBM. Kalau dikembangkan jadi BUMDes, pasti bisa menambah penghasilan warga setempat,” paparnya.
Program selanjutnya, yakni Kudus 24 Jam. Bergas mengupayakan agar beberapa wilayah di Kabupaten Kudus dapat terus beraktivitas dan bisa meningkatkan kesejahteraan warganya selama 24 jam. Hal itu sudah dimulai di kawasan Sunan Muria. Bergas melihat ada potensi kawasan Sunan Kudus bisa hidup 24 jam.
“Artinya, peluang itu juga ada di kawasan wisata religi Sunan Kudus yang dapat terus beraktivitas selama 24 jam,” ucapnya.
Pj. Bupati menjelaskan, rencana Kudus 24 jam disambut baik oleh Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK). Selanjutnya, pihaknya bersama jajaran menyiapkan Blueprint berupa komitmen Pemerintah Kabupaten Kudus bersama 10 desa penyangga sekitar Menara Kudus agar dapat beraktivitas selama 24 jam.
“Prosesnya panjang. Ada Focus Group Discussion (FGD) dulu dengan stakeholder terkait. Kami menyadari waktu kami terbatas. Sehingga kami menyiapkan pondasinya dulu untuk mengarah ke sana,” ucapnya.
Selanjutnya, program unggulan yang digagas, yakni pendidikan unggul bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Pj. Bupati menjelaskan akan mewadahi siswa yang memiliki prestasi dari keluarga kurang mampu tanpa dibatasi kuota maupun zonasi. Mereka nantinya tak hanya mendapatkan pelajaran sekolah, tapi juga les tambahan. Kalau berhasil, program ini akan dikoneksikan dengan SMA vokasi yang sudah ada di Kabupaten Kudus.
“Program pendidikan ini khusus untuk mereka yang berprestasi dari kalangan kurang mampu. Biar kecerdasan mereka didukung fasilitas yang mumpuni,” terangnya.
Pj. Bupati menjelaskan, siswa lulusan pendidikan unggulan siap menjadi tenaga kerja yang andal. Diharapkan, program itu turut memutus rantai kemiskinan yang ada di Kabupaten Kudus.
“Jika berjalan baik, sang anak bisa mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang layak. Sehingga jangka panjangnya dapat menekan angka kemiskinan di Kudus,” urainya.
Program terakhir, yakni sektor ketenagakerjaan. Bergas berupaya menyediakan ruang bagi para para pencari kerja dengan menjalin kemitraan bersama Indonesia Japan Business Network (IJBNet). Kerja sama ini memungkinkan pengiriman tenaga kerja andal dari Kabupaten Kudus yang telah menguasai 18 bidang pekerjaan ke Jepang.
“IJBNet membawahi 18 bidang pekerjaan yang dibutuhkan di Jepang mulai dari pertanian, tata boga, perhotelan, pertanian, dan lain-lain. Jadi memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi tenaga kerja,” ungkapnya.
Mekanismenya, calon tenaga kerja terpilih dilatih bahasa Jepang di Balai Latihan Kerja (BLK) sesuai standar IJBNet. Kemudian kemampuan teknisnya diuji langsung oleh pemilik perusahaan di Jepang. Kalau prosesnya sesuai, sekitar 6 bulan setelah belajar di BLK, tenaga kerja andal dan terlatih dapat dikirim ke Negeri Sakura.
“Jadi, setelah dilatih di BLK ada tindak lanjutnya, yakni bisa bekerja di Jepang,” paparnya.
Bergas menyampaikan, biasanya, ada kontrak selama 3 tahun yang ditawarkan setelah bekerja di Jepang. Kalaupun tidak diperpanjang, tenaga kerja dapat menerapkan ilmu yang didapat di Jepang untuk kemajuan Kabupaten Kudus.
“Tawaran kontraknya sekitar 3 tahun. Setelah itu, biasanya ada yang diperpanjang dan ada yang tidak. Kalau tidak diperpanjang, masih bisa menikmati hasil kerja atau untuk tenaga ahli, misalnya di bidang pertanian bisa menerapkan ilmunya di Kudus,” pungkasnya.
