Setelah seluruh rangkaian ritual selesai, warga mengikuti doa bersama dan kepungan atau makan bersama dengan alas daun jati yang memanjang di sepanjang jalan menuju kawasan utama Makam Sunan Muria.
Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria (YM2SM), Mastur, mengatakan guyang cekathak tahun ini digelar di tengah kondisi kemarau ekstrem yang dirasakan masyarakat Kudus dan wilayah sekitarnya.
Bahkan, sejumlah desa mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
“Guyang itu memasuh, kalau cekathak artinya pelana kuda. Jadi sebenarnya ini tradisi membasuh pelana kuda Mbah Sunan,” ujar Mastur.
Menurut Mastur, Sendang Redjoso dipilih sebagai lokasi ritual karena terdapat cerita turun-temurun bahwa tempat tersebut pernah digunakan Sunan Muria untuk berwudu dan membersihkan diri.
Keberadaan sumber mata air yang masih memancar di tengah kemarau juga membuat sendang tersebut memiliki nilai penting bagi masyarakat setempat.
“Ini sebagai pengingat masyarakat agar terus melestarikan perjuangan Sunan Muria, salah satunya dengan merawat tradisi,” katanya.
Ia menambahkan, pelemparan cendol ke udara merupakan simbol masyarakat yang sedang mengharapkan hujan. Cendol tawar tersebut juga dipercaya membantu membersihkan kawasan sumber mata air.
“Pernah selepas tradisi guyang cekathak, hari itu langsung turun hujan. Ini menjadi simbol ngalap berkah juga,” tutur Mastur.
Sementara itu, Miatun (60), pedagang di Terminal Colo, mengaku rutin mengikuti tradisi tersebut setiap tahun. Ia berharap guyang cekathak menjadi jalan datangnya berkah bagi masyarakat yang tengah menghadapi kekeringan.
“Karena ini tradisi jadi harus dilestarikan. Karena air sangat bermanfaat untuk kami, untuk memasak, menyiram tanaman dan bersih diri,” ujarnya.
Miatun juga mengaku senang dapat berkumpul bersama warga dalam suasana guyub dan rukun melalui tradisi tersebut.
Ia berharap guyang cekathak tetap dilestarikan generasi berikutnya dan doa masyarakat Desa Colo untuk mendapatkan hujan yang bermanfaat segera terkabul. ***
