KUDUS, ZONANEWS.ID – Musim kemarau ekstrem mulai memicu krisis air bersih di Kabupaten Kudus. Sebanyak 1.091 warga atau 375 kepala keluarga di Desa Glagahwaru, Kecamatan Undaan, terdampak kekeringan yang telah berlangsung selama sekitar dua pekan terakhir.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan air bersih warga semakin sulit dipenuhi.
Sejumlah sumur warga mengering sehingga masyarakat terpaksa membeli air bersih atau mengambil air dari daerah lain, termasuk wilayah Prawoto, Kabupaten Pati, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah seorang warga, Sarah Solekhah (55), mengatakan kekeringan di lingkungan RW 3 sudah berlangsung hampir satu bulan. Menurutnya, sumur yang selama ini menjadi sumber air utama keluarga kini tidak lagi mengeluarkan air.
“Sumur sudah kering satu bulan lalu. Kalau untuk minum saya beli air kemasan, untuk mencuci baju harus ngangsu air,” ujar Sarah, Jumat, 17 Juli 2026.
Ia mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan air minum maupun keperluan rumah tangga lainnya.
Sarah menuturkan, kekeringan sebenarnya hampir selalu terjadi setiap musim kemarau. Namun, kondisi tahun ini dinilai lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih lama.
Keluhan serupa disampaikan Lailatus Sa’adah (35). Meski sumurnya belum benar-benar kering, debit air yang tersisa sangat minim sehingga ia harus memanfaatkan bantuan dari kerabatnya untuk kebutuhan mandi dan mencuci pakaian.
“Ini habis mengambil cucian di rumah saudara, karena kalau di rumah saya sudah kekeringan, sekitar dua mingguan,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat terus menyalurkan bantuan air bersih agar kebutuhan warga tetap terpenuhi selama musim kemarau.
