“Saya membayangkan bagaimana menghidupkan boneka seolah-olah mahluk hidup, itu yang dipraktikkan peserta, berimajinasi seperti masa kecil,” katanya.
Bahan yang digunakan dalam kegiatan tersebut pun tidak terbatas pada kertas baru. Boneka dapat dikembangkan menggunakan daun, koran bekas, kain, maupun berbagai limbah yang sudah tidak terpakai sehingga kreativitas peserta semakin terbuka.
Annas menegaskan, lokakarya itu bukan ajang untuk menilai siapa yang menghasilkan boneka paling bagus.
Hal yang lebih penting adalah peserta mampu menuangkan perasaan, emosi, pengalaman, serta imajinasi mereka melalui karakter yang dibuat.
“Ternyata karya teman-teman bagus, dan mereka bisa berimajinasi dengan kampung halaman, masa kecilnya, atau membuat bentuk-bentuk unik yang bisa diceritakan,” bebernya.
Kegiatan tersebut juga melibatkan peserta anak-anak, termasuk yang berusia sekitar lima tahun. Selain menyenangkan, aktivitas membentuk bahan menjadi boneka dinilai dapat membantu melatih kreativitas dan perkembangan motorik halus anak.
Annas berharap Taman Lalu Lintas Hutan Kota Rendeng dapat semakin ramai dimanfaatkan untuk kegiatan positif.
Ia menilai ruang publik tersebut bisa menjadi tempat berbagai aktivitas kreatif, mulai dari diskusi buku, pementasan, pameran, hingga pembuatan kolase dan zine.
“Sayang sudah ada ruang publik bagus tetapi jarang digunakan. Kegiatan ini juga bisa merefresh otak dan menjadi hal baru yang menyenangkan di akhir pekan,” tandasnya. ***
