Pipiek mengakui dirinya semula lebih percaya diri menulis cerpen dibandingkan puisi. Selama bertahun-tahun, puisi lebih banyak ia tulis untuk konsumsi pribadi.
Dorongan dari sejumlah teman, khususnya komunitas Segitiga Teater, kemudian membuatnya mempertimbangkan untuk menerbitkan puisi-puisi tersebut.
Selain dibukukan, karya-karya itu dinilai dapat dikembangkan untuk musikalisasi puisi maupun berbagai perlombaan.
Keraguan tersebut perlahan berubah menjadi keberanian untuk menerbitkan karya. Pipiek akhirnya memilih untuk tidak lagi terlalu memikirkan penilaian orang terhadap puisinya.
“Dari ketidakpercayaan diri kemudian menjadi percaya diri. Orang mau menganggap saya apa, terserah. Yang penting saya punya buku,” katanya.
Dalam proses kreatifnya, Pipiek banyak mengambil inspirasi dari pengalaman pribadi maupun kisah orang-orang di sekelilingnya.
Ia mengaku sejak kecil sering menjadi tempat orang lain bercerita. Berbagai kisah tersebut kemudian ia olah menjadi tulisan, termasuk peristiwa sosial dan kemanusiaan yang ia temukan melalui pemberitaan media massa.
“Saya merasa seperti tempat sampah untuk energi negatif. Energi itu kemudian saya salurkan, saya tuangkan menjadi karya,” ungkapnya.
Pipiek pun mengajak generasi muda untuk tidak menjadikan rasa takut terhadap penilaian orang lain sebagai alasan untuk berhenti menulis. Menurutnya, tulisan yang dibuat hari ini dapat memiliki makna penting pada masa mendatang.
“Kalau kita ingin menulis, kalau kita ingin mengeluarkan perasaan, tulis saja. Nanti suatu saat tulisan itu akan menjadi sejarah penting dalam hidup kita,” katanya.
Pipiek merupakan penulis kelahiran Semarang yang telah mengenal dunia kepenulisan sejak duduk di bangku SMP. Minatnya terhadap sastra semakin berkembang ketika menempuh pendidikan di Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang.
Sejumlah karya yang pernah diterbitkannya antara lain kumpulan cerpen Perempuan yang Membenci Hari Minggu(2023), 3 Lakon Monolog (2022), Lelaki yang Ditunggu dari Balik Jendela (2021), serta antologi puisi Perempuan Menanak Sajak (2019). ***
