Dalam sehari, Stanley bisa memproduksi hingga 20 kilogram sambal. Kemudian, dikemas dalam wadah botol plastik berukuran 200 gram, dan dibanderol dengan harga Rp 28 ribu. Meskipun harga cabai naik, sambal miliknya tidak ikut naik harga.
“Harganya tetap meskipun harga cabai naik,” tambahnya.
Sistem produksinya sendiri diproses menggunakan mesin atau alat pelumat. Sehingga tekstur sambalnya tidak lembut, tetapi masih kasar seperti ulekan tangan. Saat ini, Ia memiliki enam mesin pelumat, dimana setiap mesin bisa untuk membuat 10 kilogram sambal.
“Sambal ini sudah saya trial bisa tahan sampai 7 bulan kalau masih dalam tertutup, kalau sudah dibuka bisa tahan sampai 2 minggu,” ucapnya.
Sedangkan pemasaran di dalam negeri, kata Dia, sudah menyasar berbagai wilayah, seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Bali dan lainnya. Produk sambal miliknya juga sudah tembus hingga pasar internasional.
“Pertama kali itu ke Hongkong pada tahun 2021. Terus setelah itu muali ke Makau (Tiongkok), Guangzhou (Tiongkok), Singapura, dan Cina,” kata Stanley. ***
