Potret Caping Kalo yang Dahulu Jadi Kostum Ibu-Ibu saat Kondangan di Gulang Kudus

Kamto, pengrajin caping kalo di Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kudus. (MIA)

Pengrajin Caping Kalo generasi ke empat di Desa Gulang, Kamto, merupakan satu-satunya yang masih bertahan untuk membuat caping dari bahan dasar bambu itu. Kamto bahkan mengaku terpaksa tetap memproduksi caping kalo karena wasiat dari orangtuanya.

“Mau bagaimana lagi, sekarang sudah jarang yang nyari, kalau ada paling mome kartininan saja untuk baju adat. Kalau selainnya ya jarang ada yang nyari, tapi saya tetap buat dan bikin stok kalau sewaktu-waktu ada yang cari,” ujar Kamto, Senin, 3 Maret 2023.

Kamto membeberkan mengapa caping kalo menjadi langka dan tak ada yang ingin meneruskan warisan leluhur ini. Yakni, karena penggunaan caping saat ini mulai tergantikan dengan jilbab. Terlebih, caping kalo kebanyakan memang dipakai oleh ibu-ibu.

Bacaan Lainnya

“Karena ini aksesoris wanita. Dulu sering di pakai ke kondangan atau ke pasar, tapi sekarang sudah tergantikan hijab,” tandasnya.

Selain itu, harganya yang cukup merogoh kocek juga membuat banyak pertimbangan bagi para pembeli. Satu caping kalo yang sudah jadi sendiri dibanderol seharga Rp 450 ribu.

“Harga segitu itu lumrah, karena proses buatnya lama dan manual. Kalau pakai teknologi modern pun belum mumpuni,” katanya. ***