“Bagi para hafidzah yang sudah tergabung, harapannya mereka tetap bisa menjaga hafalan sembari aktif berorganisasi, karena mengabdi di IPPNU juga bagian dari pengamalan nilai-nilai Qur’an,” lanjut Rizki.
Wakil Bupati Kudus, Bellinda Putri Sabrina Briton, dan sejumlah tokoh penting turut hadir dalam acara tersebut. dr. Renni Yuniati yang memberikan sambutan pembukaan, memuji langkah IPPNU Kudus ini.
“Kudus memberi contoh bahwa menghafal Al-Qur’an bisa menjadi gerakan sosial dan kultural yang menumbuhkan keimanan sekaligus kepekaan terhadap masyarakat,” kata dr. Renni.
Rangkaian acara juga diisi dengan sesi Inspiring Talk bersama Prof. Dr. Hj. Umma Farida, Lc. Pihaknya berpesan agar pelajar perempuan hari ini harus berani tampil.
“Pelajar perempuan hari ini harus berani tampil, bukan hanya untuk glow up, tapi juga grow up, tumbuh dalam kualitas, ilmu, dan akhlak. Visioner boleh, tapi karakter Qur’ani tetap jadi pijakan,” pesannya.
Dengan mengusung tema “Berkarya Tanpa Batas, Berdaya Tanpa Lupa Arah”, peluncuran MAHIKU memperkuat citra Kudus. Kota ini kini tidak hanya dikenal sebagai Kota Santri, tetapi juga sebagai pusat lahirnya pelajar perempuan penjaga Al-Qur’an yang berdaya dan berkarakter, sekaligus pelopor Majelis Huffadz di lingkungan IPPNU se-Indonesia.***
