Sehingga, Tuwuh menilai bila kegiatan pembuatan eco-enzim ini tidak akan merepotkan. Pihaknya juga telah mengundang narasumber yang kompeten agar para peserta bisa lebih cepat memahami.
“Kami pun mengundang ahlinya untuk pelatihan ini agar semua guru itu paham. Sehingga, para guru bisa maksimal saat mengajarkan eco-enzim di kelas,” lanjutnya.
Selain eco-enzim, SMP 5 Kudus juga menyiapkan program Ratatulica (Rajin Tulis dan Membaca) dan Eco-print. Program ini nantinya juga menyasar guru-guru yang kemudian diajarkan ke anak-anak kelas VII.
Sementara itu, Narasumber Pelatihan Eco-Enzim Purnawirawan menjelaskan, eco-enzim bisa dimanfaatkan setelah dilakukan fermentasi selama 3 bulan.
Proses pembuatan eco-enzim cukup sederhana. Limbah buah-buahan dan sayur-sayuran dicampur dengan gula jawa dengan perbandingan 1:3:10. Kemudian bahan-bahan tersebut diaduk hingga tercampur rata. Setelah itu didinginkan dalam wadah kedap udara selama 3 bulan.
“Prosesnya sederhana, tapi manfaatnya sangat banyak. Manfaatnya bisa untuk pembersihan lingkungan, pembersihan alat rumah tangga, dan juga bisa untuk pengobatan luka luar,” jelasnya.
Purnawirawan berpesan, para guru di SMP 5 Kudus agar bisa memanfaatkan limbah buah-buahan dan sayuran untuk dijadikan eco-enzim. Hal ini dinilainya lebih berguna daripada dibuang begitu saja.
