Dengan digelarnya upacara kemerdekaan ini, pihaknya berharap teman-teman disabilitas Kudus bisa meneladani jasa para pejuang yang sudah gugur dalam medan perang.
“Harapnya bisa meneladani untuk para pejuang yang sudah meninggalkan kita terlebih dahulu,” ucapnya.
Tak hanya itu, pada momentum hari kemerdekaan ini, untuk disabilitas bisa lebih diapresiasi tentang hak-hak mereka. Pasalnya, sampai dengan saat ini Indonesia belum inklusi untuk para penyandang disabilitas.
Inklusi yang dimaksudkan adalah saat ini penyadang disabilitas belum dilakukan secara terbuka di ruang publik dan dimaklumi keberadaannya di masyarakat.
“Kita bisa menjadikan hari kemerdekaan ini sebagi momentum untuk lebih mengapresiasi hak-hak disabilitas. Karena sampai saat ini Indonesia belum inklusi menurut saya untuk teman-teman disabilitas,” ujar dia.
Masih kata Rismawan, kemerdekaan inklusi yang diharapkan dalam artiannya adalah semua hak-hak penyandang disabilitas itu hak dasarnya harus bisa di penuhi oleh pemerintah.
Sementara itu, salah satu petugas pengibar bendera Suripto (42) asal Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, mengaku hari bisa ikut serta dalam pengibaran bendera merah putih.
“Saya senang bisa ikut serta. Ini pengalaman pertama saya jadi petugas upacara,” kata dia.***
