Pengamatan Musim Kawin Ungkap Penambahan Populasi Elang Jawa di Kawasan Muria, Jadi 20 Ekor

Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) di kawasan Gunung Muria. (Foto: dok. Peka Muria)

“Elang laut seharusnya tinggal di daerah pesisir, tetapi kami pernah menjumpai. Barangkali karena mangsanya ada sehingga habitatnya di Muria,” jelas Teguh.

Upaya inventarisasi satwa liar terus dilakukan melalui kolaborasi bersama berbagai pihak, termasuk Djarum Foundation dan Burung Indonesia.

Dari hasil pendataan tersebut, tercatat sedikitnya 118 jenis burung hidup di kawasan Gunung Muria, menjadikan kawasan itu sebagai salah satu habitat penting bagi keanekaragaman hayati di Jawa Tengah.

Bacaan Lainnya

Teguh menyampaikan, fokus pemantauan satwa dilakukan secara bertahap setiap tahun. Pada 2024, tim melakukan inventarisasi seluruh jenis burung, kemudian berlanjut pada pemantauan khusus burung elang pada 2025.

Sementara pada 2026, pengamatan difokuskan terhadap lokasi sarang elang selama musim berkembang biak yang berlangsung mulai Mei hingga Oktober.

“Pemantauan dilakukan pada musim berkembang biak, Mei hingga Oktober, saat ini masih berlangsung,” ungkapnya.

Selain Elang Jawa, Gunung Muria juga menjadi habitat berbagai satwa liar lain yang dilindungi, seperti macan tutul jawa, rusa, babi hutan, monyet ekor panjang, pleci Muria, hingga kucing hutan.

Berdasarkan hasil pemantauan, populasi macan tutul jawa di kawasan tersebut diperkirakan mencapai 14 ekor yang terdiri atas sembilan betina dan lima jantan.

Teguh menambahkan, tim konservasi juga mendeteksi keberadaan dua anak macan tutul jawa, meski belum dapat dipastikan apakah keduanya mampu bertahan hingga dewasa.

Di sisi lain, keberadaan macan kumbang di Gunung Muria juga diduga masih ada, namun hingga kini belum berhasil didokumentasikan.

“Biasanya indukan macan melepas anaknya setelah tiga bulan, setelah itu dibiarkan untuk berburu sendiri, ada kemungkinan dimangsa macan lainnya juga,” pungkasnya. ***