Kemudian, jenazah korban ditandu dan dibawa menuruni gunung perlahan. Total waktu yang dibutuhkan hingga korban sampai di bawah kurang lebih mencapai 6 jam.
“Dugaan sementara (korban jatuh) karena tergelincir. Waktu ditemukan, handphone korban masih ada di saku,” ungkap Yulian.
Setelah berhasil dievakuasi, sekitar pukul 13.50 WIB korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Loekmono Hadi Kudus. Di rumah sakit, dokter mengonfirmasi bahwa korban sudah meninggal dunia.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, Arif Wahyudi yang datang saat proses evakuasi berpesan, setiap pendaki harus mengenali medan dan lebih berhati-hati ketika ingin naik gunung.
Sebagai seseorang yang sering mendaki Puncak Natas Angin Gunung Muria, Arif menilai bahwa Puncak Natas Angin tidak termasuk tinggi dibanding puncak gunung lainnya. Namun jalurnya cukup curam, terlebih di “jalur naga”.
“Agak riskan kalau tidak mengenali medannya. Jalur naga cukup ekstrem dan sempit, kanan kiri jurang,” ungkapnya.
Agar peristiwa ini tidak terulang, Arif berharap pihak desa lebih ketat dalam memonitor siapa saja yang ingin naik ke puncak. Termasuk lebih banyak memberikan imbauan tentang SOP naik ke Puncak Natas Angin.***
