Alun-alun Simpang Tujuh sendiri memiliki tiga jenis rumput, yakni rumput manila atau lamuran yang mendominasi area lapangan karena dinilai tahan terhadap injakan, rumput jepang di sisi utara dekat tiang bendera, serta rumput gajah mini di sisi selatan sekitar taman.
Pemkab Kudus juga mengatur pemanfaatan kawasan tersebut agar fungsi ruang terbuka hijau tetap terjaga. Pada pagi hingga siang hari, lapangan diupayakan bebas dari aktivitas pedagang kaki lima (PKL). Sementara itu, masyarakat masih diperbolehkan memanfaatkan area alun-alun untuk berjemur.
Adapun pada sore hingga malam hari, kawasan tersebut dapat digunakan masyarakat untuk berolahraga, bersantai, maupun berekreasi bersama keluarga.
Terkait penataan PKL, Mukhlisin menjelaskan bahwa kewenangan pengaturan berada pada dinas terkait. Ia menyebut kawasan Alun-alun Simpang Tujuh selama ini masuk zona merah bagi aktivitas PKL, meskipun dirinya belum mengetahui keputusan terbaru mengenai kemungkinan perubahan kebijakan.
Selain memulihkan kondisi rumput, pembenahan fasilitas Alun-alun Simpang Tujuh juga diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan masyarakat. Mukhlisin berharap kawasan tersebut bisa dikembangkan menjadi ruang publik yang lebih modern, tertata, dan inklusif.
Beberapa aspek yang dinilai perlu mendapat perhatian meliputi peningkatan pencahayaan, penambahan spot foto, serta penyediaan akses yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas, khususnya pengguna kursi roda.
Menurutnya, aksesibilitas masih menjadi salah satu persoalan yang perlu dibenahi agar seluruh lapisan masyarakat dapat menikmati fasilitas ruang publik secara setara.
”Ada beberapa keluhan dari teman-teman disabilitas. Kalau mereka mau naik ke alun-alun, katanya masih ada kesulitan. Kursi roda belum bisa masuk dan sebagainya,” ujarnya.
Ia berharap pembenahan fasilitas tersebut dapat menjadi perhatian sehingga Alun-alun Simpang Tujuh tidak hanya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, tetapi juga menjadi tempat berkegiatan yang nyaman dan mudah diakses oleh masyarakat.
Selain itu, Mukhlisin mengusulkan pengembangan sistem penyiraman manual menjadi irigasi otomatis. Sistem tersebut dinilai berpotensi membuat pemeliharaan rumput lebih efisien, terutama dalam menjaga kelembapan tanah dan mendukung perawatan rutin.***
