“Kami akan selalu mendampingi pelaku UMKM, khususnya bidang kuliner supaya memiliki pangsa pasar yang luas dan masuk pasar modern. Segala bentuk perizinan kami permudah,” ungkapnya.
Terakhir, Hartopo meminta pada Pemdes Jepang untuk turut serta memberdayakan para penyandang disabilitas. Sehingga kaum difabel dapat tetap menghasilkan sebuah karya untuk bersama menggeliatkan perekonomian di masyarakat.
“Saya pesan, kaum difabel juga turut diberdayakan. Gandeng mereka untuk bersama menggeliatkan perekonomian di masyarakat,” pesannya.
Memaparkan profil desanya, Kepala Desa Jepang, Indarto, memiliki tekad untuk memberi pelayanan terbaik dalam tata pemerintahan desa. Hal itu tertuang dalam visi dan misi untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera, religius, maju, mandiri dan berkeadilan. Ia mengatakan, visi tersebut sejalan dengan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Kudus.
“Ini demi sinergi kami pemerintah Desa dengan Pemerintah Kabupaten Kudus. Dengan tujuan utama mewujudkan tata pemerintahan yang baik,” ujarnya.
Pemerintah desa juga mempunyai inovasi dengan adanya pasar desa yang dikelola langsung oleh BUMDes. Upaya tersebut berhasil mengangkat perekonomian yang tentunya berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat. Sesuai arahan bupati, Indarto berkomitmen untuk terus menyempurnakan pengelolaan pasar desa agar semakin lebih baik.
“Pasar desa ini murni kita yang merawat, mengelola. Kita memiliki target pendapatan desa untuk setiap tahunnya,” jelasnya.
Terkait pemberdayaan kaum disabilitas, pihaknya mengungkapkan telah berulang kali menyerahkan bantuan kepada para warga penyandang disabilitas. Bantuan diberikan dalam bentuk barang yang bisa menunjang keterampilan disabilitas bekerja. Contohnya perlengkapan pijat kepada tuna netra yang memiliki keterampilan pijat.
“Bantuan sosial untuk disabilitas yang bekerja. Kami menyerahkan peralatan pelayanan pijat seperti sprei, sarung, dan perlengkapan lain. Ini supaya tempat jasa pijat pun semakin nyaman,” katanya.***
