“Ini menjadi salah satu upaya kita untuk meningkatkan perekonomian, sekaligus untuk meramaikan Harlah Satu Abad NU,” tandasnya.
Selain itu, Pasar Kuliner Inuk juga dihadirkan untuk mengenalkan keoada anak-anak dan generasi muda terkait kuliner khas jadul yang mulai tergeser dengan makanan modern. Sehingga, keberadaan kuliner khas jadul tidak terkikis dan terus lestari di masyarakat.
“Dan makanan jadul kan juga lebih sehat sebenarnya, daripada makanan cepat saji,” tandasnya.
Selain Pasar Kuliner Inuk, Banom NU di Desa Japan juga melakukan serangkaian kegiatan lain dalam rangka meramaikan Harlah Satu Abad NU. Di antaranya, jalan sehat, pengobatan alternatif banser wirahusada, donor darah, khotmil quran, dan Japan bersholawat.
“Harapannya nanti yang datang tidak cuma dari warga Japan saja, jadi bisa mungkin dari luar bisa ikut meramaikan,” tukasnya.
