Panen Tembakau di Desa Gulang Kudus Masuki Tahun Kedua, Petani Pilih Jual Basah

Panen tembakau di Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. (Foto: Siti Islamiyah/Zonanews.id)

Selain itu, penggunaan bibit Srumpung yang dinilai bagus turut berpengaruh terhadap kualitas tanaman.

“Karena tahun ini kan kemarau cukup lama. Kebetulan bibitnya bagus, Srumpung,” jelasnya.

Teni menambahkan, salah satu tantangan utama dalam budidaya tembakau adalah curah hujan. Tanaman tembakau cenderung kurang optimal apabila banyak terkena hujan.

Bacaan Lainnya

Ia juga menjelaskan bahwa kandungan nikotin pada tembakau dapat berfungsi sebagai pestisida alami.

Pemanenan dapat dilakukan secara berkala, bahkan setiap pekan, dengan total sekitar tiga hingga empat kali panen. Sementara itu, penggunaan pestisida kimia hanya dilakukan satu kali.

Untuk pemasaran, petani saat ini lebih memilih menjual tembakau dalam kondisi basah. Harga tembakau basah berada di kisaran Rp3.500 per kilogram, sedangkan tembakau yang telah dikeringkan atau dirajang dapat mencapai sekitar Rp50 ribu.

Namun, proses pengeringan membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima hari dan memiliki risiko kerusakan lebih besar.

“Kata petani di sini lebih memilih jual basah karena langsung jual. Juga minim rusak,” ujar Teni.

Ketua Gapoktan Sidomakmur Desa Gulang, Muhammad Solikin, mengatakan keterbatasan sarana pengolahan menjadi alasan petani memilih menjual hasil panen secara basah.

“Di jual basahnya, karena sini memang belum ada pemrosesan. Lebih memilih dijual di lokasi,” katanya.

Ia menambahkan, petani saat ini masih fokus pada teknik budidaya karena penanaman tembakau baru dilakukan sekitar tiga tahun. Pembeli biasanya didatangkan langsung ke lokasi panen, salah satunya dari rokok Camplok.

“Ke depan jika makin bagus, dan pembeli semakin banyak, otomatis petani lebih bergairah,” pungkasnya. ***