Pihaknya pun berencana akan terjun ke lapangan untuk bertemu dengan supir maupun pelaku usaha jasa transportasi untuk membahas kenaikan tarif setelah adanya kenaikan harga BBM subsidi.
“Terkait naik tarif deal-nya belum pasti. Mungkin 1-3 hari akan kami bahas dengan teman-teman (supir dan pelaku jasa transportasi) yang ada di lapangan. Kami akan terjun ke lapangan berapa pasnya kan gitu,” ujarnya.
Menurut keterangan Mahmudun, sebelum ada pengumuman kenaikan tarif resmi dari organda, para sopir angkutan umum maupun barang sendiri telah menaikkan tarifnya sebesar 20 persen.
“Sebelum adanya kenaikan resmi dari organda, saya dengar-dengar ya 20 persen,” ucap dia.
Pihaknya berharap, dengan kenaikan tarif sebesar 20 persen tersebut tidak akan memberatkan penumpang maupun merugikan para pelaku usaha jasa transportasi di Kudus. Hal ini mengingat bahwa kenaikan harga BBM yang telah ditetapkan beberapa waktu lalu, turut mempengaruhi pendapatan bagi para pelaku jasa transportasi. ***
