Metode green synthesis dipilih karena lebih ramah lingkungan, memiliki tingkat toksisitas yang rendah, serta tidak menghasilkan limbah berbahaya.
Selain itu, teknologi tersebut dinilai mampu meningkatkan bioavailabilitas bahan aktif sehingga berpotensi menjadi solusi terapi osteoporosis yang lebih efektif dan aman untuk penggunaan jangka panjang.
Keunikan penelitian yang menggabungkan kekayaan hayati Indonesia dengan teknologi biomedis modern menjadi nilai tambah di hadapan para juri.
Inovasi tersebut tidak hanya memperkenalkan potensi tanaman lokal Indonesia, tetapi juga menawarkan gagasan baru dalam pengembangan terapi penyakit yang menjadi perhatian dunia.
Kepala MAN 2 Kudus, Ali Musyafak, mengaku bersyukur atas prestasi internasional yang diraih siswanya. Menurutnya, capaian tersebut semakin memperkuat komitmen MAN 2 Kudus dalam mengembangkan budaya riset dan prestasi akademik di tingkat global.
“Alhamdulillah, prestasi internasional ini menjadi penyemangat bagi seluruh keluarga besar MAN 2 Kudus untuk terus berkarya, berinovasi, dan berprestasi. Semoga capaian ini semakin menguatkan ikhtiar kita mewujudkan MAN 2 Kudus sebagai madrasah riset yang unggul dalam akademik, aman, nyaman, mendunia, serta senantiasa barokah mbarokahi, memberikan manfaat dan dampak positif bagi bangsa, negara, dan dunia,” ujar Ali Musyafak.
Prestasi Silver Medal yang diraih Naira diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh siswa MAN 2 Kudus untuk terus mengembangkan budaya penelitian dan inovasi.
Keberhasilan tersebut juga menjadi bukti bahwa pelajar madrasah mampu bersaing di tingkat internasional sekaligus membawa nama baik Indonesia melalui karya ilmiah yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kesehatan global. ***
