Ia mendapat informasi bahwa regenerasi pengrajin menjadi salah satu tantangan karena jumlah maestro atau pengrajin yang masih menguasai keterampilan membuat caping kalo semakin terbatas.
“Terus tiba-tiba para pelaku budaya ngomong, Pak ini caping kalo. Situasinya sudah hampir sulit untuk dilestarikan, karena maestronya tinggal sedikit,” tutur Giring.
Dari situ, menurut Giring, muncul dorongan untuk turut mengenalkan caping kalo melalui momentum kedatangannya ke Kudus. Ia bahkan telah membicarakan hal tersebut dengan sang istri agar turut mengenakan wastra dan pakaian adat Kudus dalam kunjungan tersebut.
“Nah dari situ datanglah Nojorono dan sudah menjadi cita-cita. Pokoknya saya sudah ngomong sama istri saya, pokoknya begitu kita datang ke sini Pak Bupati, pokoknya izin yang tolong bantu all out memakai wastra, memakai kebaya dari Kudus, memakai caping kalo,” ungkapnya.
Giring mengatakan sang istri menyambut baik gagasan tersebut dan tampil maksimal menggunakan busana Nusantara.
Ia berharap penampilan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari dokumentasi acara, tetapi juga ikut memperkenalkan kekayaan budaya Kudus kepada masyarakat yang lebih luas.
“Dan alhamdulillah istri saya memang suka. Suka, bisa teman-teman lihat di Instagram dia, dia tuh kalau udah pakai baju Nusantara pasti selalu all-out,” ujarnya. ***
