Karena dengan kesempatan tersebut, Hartopo mengaku bahwa jiwanya telah menyatu dengan masyarakat Kudus.
“Jiwa kenegarawanannya timbul dengan sendirinya sehingga timbul menjadi karakter. Jadi sekarang sudah terbiasa menjadi pelayan masyarakat,” katanya.
Menjadi Bupati Kudus dikatakan Hartopo merupakan tanggung jawabnya untuk menjadi pelayan masyarakat. Hal itu pun sama dengan menjadi pelayan rumah tangga.
“Jadi tidak pernah benar, kalau baik tidak pernah dilem (dipuji), tapi kalau jelek pasti ditunjukkan. Itu sudah bentuk pengabdian kita, komitmen kita kepada masyarakat Kudus, niat kita membangun Kudus,” jelas Hartopo dengan senyum sumringah.
Di sisi lain, Ketua TP PKK Kabupaten Kudus yang juga istri Hartopo, Mawar Anggraeni mengatakan, Hartopo merupakan sosok yang luar biasa. Selain sukses menjadi pemimpin rumah tangga, sosok Hartopo juga dinilai Mawar sukses menjadi pemimpin Kota Kudus.
“Beliau ini memang luar biasa, menjadi pemimpin rumah tangga dan pemimpin Kota Kudus. Semoga apa yang menjadi lelah beliau menjadi lillah,” ungkap Mawar selepas mendampingi Hartopo mengikuti Kenduren Massal.
Mawar juga menilai, sosok Hartopo selama ini tidak pernah berubah. Baik sebelum menjadi Bupati maupun setelahnya.
“Beliau tetap beliau, gak pernah berubah,” tegas Mawar sembari menatap suaminya dengan tersenyum.***
