“Kami masih perlu tindak lanjut, apakah teknisnya nanti pembagian tugas antara petugas dapur dengan siswa atau seperti apa, masih kami kaji,” ungkap Bellinda.
Selain mengurangi sisa makanan, sistem prasmanan dinilai dapat menyederhanakan proses distribusi karena makanan tidak perlu dikemas dalam wadah terpisah untuk setiap siswa.
Namun, aspek kebersihan, keamanan pangan, dan pengawasan selama penyajian tetap menjadi perhatian agar makanan yang dikonsumsi siswa memenuhi standar yang diperlukan.
Hasil uji coba tersebut nantinya akan dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan kemungkinan penerapan sistem prasmanan secara lebih luas.
“Hasil uji coba ini akan kami sampaikan ke BGN sebagai bahan pertimbangan,” tambahnya.
Bellinda berharap penggunaan sistem prasmanan dapat mendukung pelaksanaan program MBG di Kudus agar berjalan lebih optimal, sekaligus meminimalkan risiko gangguan kesehatan akibat makanan yang tidak layak konsumsi.
Meski demikian, efektivitas metode ini masih perlu dipastikan melalui evaluasi menyeluruh, terutama terkait keamanan pangan dan tata cara penyajian.
“Metode prasmanan ini diharapkan tidak hanya membuat distribusi makanan lebih praktis, tetapi juga menjamin kualitas dan keamanan makanan yang diterima siswa,” pungkasnya. ***
