“Dengan berdialog, kita mengajak semuanya untuk berpikir mulai dari yang paling dekat, potensi di desanya masing-masing. Saling berdialog inilah anak muda bisa lebih enjoy,” ungkapnya.
Sebelum kegiatan Lesbumi Goes to Campus, Abud menceritakan bahwa Lesbumi Kudus juga memiliki kegiatan Kembang Kanthil. Kegiatan dengan tujuan sama mengenalkan seni, budaya hingga tradisi, namun menyasar setiap desa di Kudus sembari iringan musik dari Sangita, grup musik yang dibentuk Lesbumi Kudus.
“Dengan jargon Kanthi Laku Tansah Kemantil, Kembang Kanthil merupakan projek aktivasi seni budaya dan tradisi di desa-desa. Kami sudah mulai kegiatan ini sejak 2019, namun sempat tidak aktif saat covid dan sekarang kami mulai aktifkan kembali,” jelasnya.
Lebih lanjut, Abud menjelaskan Lesbumi Kudus kembali aktif sekitar empat tahun terakhir. Di mana total anggotanya ada 200 orang dengan 45 orang pengurus aktif.
Ia pun berharap, Lesbumi Kudus semakin dikenal banyak masyarakat. Bahwa Lesbumi ada untuk terus melestarikan seni, budaya, dan tradisi yang ada.***
