Ledakan Lalat di Desa Bulungcangkring, Pemkab Kudus Bentuk Tim Penanganan

Wakil Bupati Kudus, Bellinda Putri Sabrina Birton saat mengunjungi peternakan ayam di Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. (Foto: Ayu Devi/Zonanews.Id)

Belinda juga menegaskan, apabila pembinaan dan pengawasan tidak berjalan efektif dan masih ditemukan pengelola kandang yang tidak mengikuti ketentuan, pemerintah akan mempertimbangkan tindakan lebih lanjut.

“Kalau memang masyarakat minta untuk ditutup, ya kita tutup. Kita rekomendasikan untuk ditutup,” tegasnya.

Sementara itu, perwakilan pengelola kandang dari PT Antoni Jaya Perkasa (AJP), Heri Hermawan, mengatakan pihaknya memahami keluhan masyarakat mengenai meningkatnya populasi lalat di sekitar peternakan.

Bacaan Lainnya

Menurut Heri, terdapat sekitar 21 peternakan ayam di wilayah Bulungcangkring. Para pengelola peternakan disebut telah melakukan sejumlah upaya untuk menjaga sanitasi dan biosekuriti kandang.

“Antisipasi kita tetap biosekuriti. Di farm kita sebenarnya sudah berjalan, pagi dan sore kita semprot. Untuk sanitasi lingkungan juga sudah berjalan,” katanya.

Selain penyemprotan di area peternakan, pengelola juga mengaku telah membantu melakukan penyemprotan di lingkungan warga dan sekolah. Lem lalat turut dibagikan sebagai salah satu upaya mengurangi populasi lalat.

Heri menjelaskan, peningkatan populasi lalat dapat terjadi ketika memasuki masa panen ayam. Hal itu karena siklus panen di masing-masing kandang tidak berlangsung secara bersamaan.

“Kalau musim panen pasti banyak, karena siklus panen ayam kita di sini tidak bisa bareng, tidak bisa serentak. Jadi bisa berpindah-pindah dari ujung sampai ujung,” jelasnya.

Satu siklus pemeliharaan ayam, lanjut Heri, berlangsung sekitar satu setengah bulan. Saat masa panen, proses pengerukan kotoran dari kandang dapat memicu munculnya lalat.

Selain aktivitas peternakan, kondisi lingkungan dan perubahan musim juga dinilai dapat memengaruhi perkembangan populasi lalat.

Heri mengatakan pengendalian lalat membutuhkan kerja sama seluruh pengelola peternakan. Sebab, keberadaan lalat di kawasan peternakan dinilai tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, tetapi populasinya dapat ditekan melalui sanitasi dan biosekuriti yang konsisten.

“Kalau menghilangkan saya rasa di dunia peternakan susah. Kalau sampai steril saya rasa tetap ada lalat. Mungkin harapannya lebih kepada mengurangi,” ujarnya.

Dengan pembentukan Tim Bina Lingkungan, Pemkab Kudus berharap penanganan persoalan lalat di Bulungcangkring dapat dilakukan secara terkoordinasi. Pengawasan terhadap kondisi kandang dan lingkungan sekitar juga akan menjadi bagian dari evaluasi untuk memastikan gangguan terhadap masyarakat dapat ditekan.***