Lebaran Ketupat: Teatrikal Umara dan Umari Warnai Kemeriahan Tradisi Bulusan di Kudus

Tradisi Bulusan di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus. (Foto: Istimewa)

Suara itu kemudian didengar oleh Sunan Muria yang sedang berbincang dengan Mbah Dudo. Sunan Muria pun mengutus santrinya untuk mencari sumber suara dan spontan mengucapkan sabda yang mengubah kedua santri menjadi bulus.

“Sabda yang diucapkan Sunan Muria, ‘wengi-wengi kok daud, koyo bulus’ (malam-malam kok mencabut benih padi, seperti bulus),” ujar Aris.

Aris melanjutkan, sabda Sunan Muria itu kemudian secara seketika mengubah dua murid Mbah Dudo menjadi bulus. Kedua bulus itu akhirnya berjalan ke arah selatan, melewati sungai dan jatuh di tengah desa yang kini disebut bulusan.

Bacaan Lainnya

Cerita ini kemudian berkembang dan menjadi bagian dari tradisi yang dilestarikan hingga sekarang.

“Setelah sabda tersebut, Kanjeng Sunan Muria bertanggung jawab atas keselamatan dan kehidupan dua bulus tersebut, sehingga berjalan dan memunculkan nama-nama daerah seperti mojo, prasman, dan titik akhir bulusan,” terang Aris.

Tak hanya kirab dan ritual sakral, acara Bulusan juga dimeriahkan dengan pasar UMKM yang diikuti oleh 300 tenan. Pasar ini sudah dibuka sejak 1 April dan akan berlangsung hingga 12 April 2025.

Keberadaan pasar ini memberikan kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk menjual produk lokal dan memperkenalkan hasil UMKM mereka kepada pengunjung yang datang dari berbagai daerah. ***