Sementara itu, pada Oktober hingga periode pendataan tersebut, BPBD mencatat 13 kejadian kebakaran dengan luas lahan terdampak 7,21 hektare. Kerugian pada bulan tersebut mencapai Rp 40 juta.
Secara keseluruhan, penanganan karhutla selama Juni hingga Oktober mencakup sembilan kecamatan dan 63 desa di Kabupaten Kudus. BPBD bersama unsur terkait terus melakukan koordinasi dan penanganan di lokasi kejadian untuk mengurangi dampak kebakaran.
Selain ancaman kebakaran lahan, musim kemarau juga menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah. Berdasarkan pembaruan data hingga 11 Oktober 2026, distribusi bantuan air bersih telah menjangkau sembilan desa di tiga kecamatan, yakni Undaan, Dawe, dan Kaliwungu.
Sebanyak 1.474 kepala keluarga atau 4.478 jiwa tercatat terdampak kekeringan. Total bantuan air bersih yang disalurkan mencapai sekitar 3,9 juta liter melalui ratusan perjalanan tangki.
Penyaluran bantuan melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD, TNI, Polri, Satpol PP, PMI, PDAM, Baznas, organisasi kemasyarakatan, komunitas relawan, hingga pihak swasta. BPBD juga menempatkan tandon air di sejumlah titik untuk memudahkan masyarakat mendapatkan pasokan air bersih.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di lahan perkebunan tebu, persawahan, dan lahan kosong yang mudah terbakar saat cuaca kering.
Warga juga diimbau tidak membakar sampah sembarangan maupun membuka lahan dengan cara membakar. Api yang tidak terkendali berpotensi menjalar ke area sekitar dan memperluas dampak kebakaran.
“Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dan tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah sembarangan. Peran serta masyarakat sangat penting untuk mencegah kebakaran meluas dan mengurangi risiko bencana di Kabupaten Kudus,” imbaunya.***
