Sam’ani juga menargetkan, dengan adanya Satu Data Satu Kata, masyarakat juga melek data statistik di Kudus. Di samping itu, desa, kecamatan, maupun dinas, diharapkan bisa menghitung pertumbuhan ekonomi di masing-masing wilayah.
“Ini juga untuk melihat angka kemiskinan di Kudus kondisinya seperti apa di desa dan kecamatan, jadi tidak grambyang,” tandasnya.
Untuk memaksimalkan gagasan tersebut, Sam’ani juga berencana untuk menjalin kerja sama dengan BPS. Targetnya, tahun 2026 mendatang rencana ini dapat terealisasi. Sehingga, data dari desa dapat disinkronkan dengan BPS.
“Kerja sama dengan BPS untuk intervensi menyamakan persepsi, cara menghitung data statistik itu bagaimana, biar desa, kecamatan itu paham, dan masyarakat juga tahu,” ucapnya.
Lebih lanjut, Sam’ani juga menyebutkan bahwa angka kemiskinan Kudus tahun 2024 tercatat di kisaran 7,23 persen. Angka ini turun dari tahun 2023 yang sebesar 7,24 persen. Pihaknya menargetkan pada tahun 2025, kembali turun menjadi 6,9 persen. ***
