Selain itu, program tersebut juga mendukung penciptaan Program Kampung Iklim (Proklim) di desa-desa yang ada di Kabupaten Kudus.
Berdasarkan informasi yang disampaikan, sejauh ini sudah ada 29 desa proklim dengan 47 bank sampah binaan yang tersebar di 9 kecamatan di Kabupaten Kudus.
“Saya kira ini cukup efektif untuk mengurangi jumlah sampah yang kita tahu sehari saja Kudus sudah menghasilkan sampah 180 ton. Tentunya ini harus segera digencarkan bersama temen-temen di setiap wilayah,” tandasnya.
Proklim sendiri, ujar Sri, juga dapat mendukung penciptaan wisata edukasi yang bersih dan hijau. Pasalnya desa wisata yang bagus juga perlu didukung dengan keberhasilan lingkungan yang bersih dan sehat.
“Seperti dalam lomba desa yang akan diselenggarakan tahun 2023, juga memuat kriteria penilaian bank sampah,” imbuhnya.
Oleh karena itu, pihaknya mengimbau ke desa-desa dan masyarakat untuk bisa memaksimalkan program bank sampah unit.
“Salah satu contoh desa proklim yang bagus itu seperti di Desa Golantepus Mejobo Kudus, itu dengan kampung iklim dan tatanan yang cukup bagus dan hijau, ada bank sampah dan RTH (Ruang Terbuka Hijau) untuk pengurangan dan pengelolaan sampah,” pungkasnya. ***
