“Karena saya berasal dari pesisir Demak, melihat perkebunan ini sangat luar biasa,” katanya.
Khusni juga merasa senang bisa belajar mengenai kopi robusta khas Desa Japan dan Jeruk Pamelo yang memiliki cita rasa manis asam. Dirinya mengusulkan agar Desa Japan bisa memiliki brand produk kopi sendiri agar kenikmatannya bisa dinikmati masyarakat luas.
“Karena yang saya dengar, petani kopi dari Desa Japan kan hanya sebatas suplayer untuk Temanggung, alangkah bagusnya kalau punya brand sendiri,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Desa Japan Sigit Triharso menyampaikan bahwa luas lahan kebun kopi di desa setempat ada sekitar 150 hektar, sedangkan untuk kebun jeruk pamelo ada lebih dari 90 hektar.
“Karena ini modelnya itu kebanyakan tumpang sari, jadi kebun kopi seperti ini ditanami pohon jeruk pamelo juga, ada juga yang ditanami pohon alpukat,” ujarnya.
Sigit menyampaikan, Desa Japan yang sudah menyandang sebagai Desa Wisata sejak tahun 2021 menjadikan kebun kopi menjadi potensi wisata untuk menarik wisatawan supaya berkunjung.
“Biasanya panennya itu di bulan Agustus-September, untuk sekarang memang buah kopinya masih hijau-hijau. Tapi kalau untuk jeruknya sudah ada yang bisa dinikmati ini,” ucapnya.
Sebelum kedatangan Kudus Family Trip, kebun kopi desa setemlat juga sempat kedatangan wisatawan dari Prancis dan Filiphina. Selain itu, beberapa wisatawan lokal daerah dan luar daerah juga berkunjung untuk belajar mengenai kopi dan jeruk pamelo. ***
