Berbagai rentang usia, dari anak kecil, remaja hingga dewasa berkeliling ke ruang pameran yang berada di Museum Kartini Jepara.
Anis yang juga terlibat sebagai penggerak Jaladara colectiva itu mengungkapkan pameran pertama ini sebagai ruang inklusif para seniman perempuan menampilkan karyanya.
“Teman-teman bisa berkeasi tanpa rasa takut, khawatir dengan keterlibatan laki-laki,” terangnya.
Ke depannya, Jaladara bakal menjadi ruang yang diisi dengan berbagai agenda, workshop dan kolaborasi yang melibatkan lebih banyak perempuan untuk berproses dan berkesenian secara aman dan nyaman.
Salah satu pengunjung asal Kudus, Muchamad Zaini menilai pameran Jaladara ini berhasil menyuguhkan wacana perempuan di Museum Kartini.
Seringkali, kata dia, perempuan hanya dijadikan sebagai objek dalam karya seni.
“Tetapi di sini, perempuan sudah menjadi subjek untuk berkarya, menyuarakan ekspresinya, ” kata Zaini.**
