Persediaan air tersebut kemudian digunakan untuk kebutuhan keluarga pada hari berikutnya. Setelah habis, warga kembali menunggu sampai sumur bor menghasilkan air.
“Setiap hari seperti itu. Tiga sampai empat jam kemudian menunggu air lagi,” imbuh Juarini.
Kondisi tersebut turut memengaruhi kebutuhan mandi. Juarini mengatakan dirinya memilih mandi di rumah mertuanya yang berada di wilayah Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, karena ketersediaan air di sana masih mencukupi.
“Kalau mandi saya ke Garung, di rumah mertua. Alhamdulillah tidak perlu membeli air,” katanya.
Di lingkungan tersebut, mayoritas warga bekerja sebagai karyawan pabrik. Sejumlah warga di antaranya bekerja di Djarum sehingga aktivitas di lingkungan permukiman pada siang hari relatif sepi.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan warga, bantuan air bersih kemudian disalurkan ke wilayah tersebut. Juarini menyebut bantuan dari pemerintah dan Polri memberikan manfaat bagi masyarakat yang tengah menghadapi keterbatasan air.
“Alhamdulillah semenjak ada air bersih ini warga terbantu. Baru kali ini ada bantuan dari pemerintah dan Polri,” ungkapnya.
Bagi warga, bantuan tersebut menjadi penopang sementara selama pasokan air dari sumur belum kembali normal. Mereka berharap kondisi kekeringan tidak berlangsung lebih lama dan ketersediaan air dapat kembali mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Juarini juga berharap kejadian serupa tidak kembali terulang pada musim kemarau berikutnya. Sebab, warga harus meluangkan waktu hingga malam hari hanya untuk mendapatkan air.
“Harapannya tahun ini tidak seperti ini lagi, dan tahun depan jangan sampai seperti sekarang. Ini baru pertama kali kami mengalami susah air seperti ini,” pungkasnya.***
