“Kunci pengentasan stunting itu tinggi protein hewani. Tidak semua 0-6 bulan dikasih ASI eksklusif, usia 6-1 tahun dikasih makanan lumat, usia 1-2 tahun dikasih makanan lunak, usia 2-3 dikasih makanan tinggi protein hewani. Nah itu yang ingin kita kampanyekan,” terangnya.
DKK Kudus juga telah mencanangkan program Si Cantik (Aksi Cegah Anak Stunting dengan Intervensi Kolaboratif) yang ditujukan dengan beberapa esensi, yakni pelayanan, pendampingan, dan kampanye perubahan pola perilaku.
“Kita adakan kelas gizi rutin dan kelas cantik. Kelas cantik ini dibuka untuk memberikan pelayanan komprehensif, baik berupa skrining tumbuh kembang anak, treatmen dan intervensi, edukasi maupun pendampingan masalah stunting,” tuturnya.
Capaian akhir dari kegiatan tersebut, lanjut dr. Andini, diharapkan tidak hanya mengentaskan kasus stunting saja, melainkan balita yang mengarah ke status stunting serta balita dengan masalah gizi lainya. ***
